Sabtu, 21 Desember 2013


Operasi mempercantik fisik kini bukan lagi menjadi hal yang tabu untuk diperbincangkan. Buktinya, tak sedikit orang yang rela mengeluarkan uang puluhan bahkan ratusan juta hanya untuk mendapatkan bentuk tubuh idaman. Salah satunya adalah operasi bedah plastik payudara atau breast augmentation (BA). 

Dokter Vera Ikasari, SpBP, selaku ahli bedah plastik RS. Puri Indah, Jakarta menuturkan, selain menjunjung tinggi nilai estetika, penyusutan massa payudara adalah penyebab mengapa wanita merasa perlu melakukan BA. Penuaan, pemberian ASI, hingga faktor genetik adalah beberapa pendukung terjadinya penyusutan massa tersebut. 

“Breast Augmentation merupakan bentuk pembedahan yang dilakukan untuk mengisi kekurangan massa payudara. Hal ini murni untuk kepentingan estetika,” ujarnya. 

Guna mendapatkan hasil sempurna, BA dapat dilakukan melalui dua cara, yakni pemasangan silikon gel/padat serta proses fat grafting. Silikon yang digunakan untuk BA terdiri atas silikon tekstur dan non tekstur. Berbeda dengan penggunaan silikon, proses fat grafting justru murni menggunakan lemak tubuh sebagai pengganti massa buatan pada payudara. 

Kedua proses tersebut merupakan proses yang aman, meski dalam beberapa kasus, proses fat grafting dianggap lebih mengecewakan dibanding pemasangan silikon gel. Silikon gel dapat bertahan hingga seumur hidup, sedangkan massa buatan pada fat grafting akan lebih cepat menyusut seiring menyusutnya lemak di area tubuh pasien. 

Sebelum melakukan BA, pasien harus melakukan serangkaian pemeriksaan, seperti USG payudara, tes darah, foto rontgen, hingga mamografi. Bagi pasien dengan atau berpotensi kanker payudara sangat tidak dianjurkan untuk melakukan proses bedah plastik ini. Pemasangan silikon pada payudara dilakukan melalui tiga titik pilihan, yaitu ketiak (trans aksila), bawah lengkungan payudara (inframamari) atau area puting payudara (peri ariola). 

“Proses pemasangan implan harus dalam keadaan yang steril dari berbagai penyakit,” tambah dr. Vera.

Meski terlihat indah, pemasangan implan juga memberikan komplikasi bagi tubuh pasien. Tak jarang guratan paska operasi atau infeksi terjadi. Akibatnya, pasien akan mengalami sedikit gangguan saat beraktivitas.

dr. Vera menambahkan, pasien BA harus mengontrol setiap gerakannya usai melakukan operasi. Pasien tidak dianjurkan untuk melakukan gerakan tangan yang membutuhkan tenaga ekstra seperti mendorong, mengangkat, mandi dengan shower, dan lain-lain. Penggunaan bra khusus serta pemberian antibiotik juga menjadi hal yang wajib dilakukan pasien pascaoperasi. 

Jika ingin melakukannya, pilihlah implan yang berkualitas untuk menghindari risiko pecahnya implan di kemudian hari. Pertimbangkan kembali sejauh mana keinginan dan kebutuhan Anda terhadap implan payudara sebelum memutuskan menggunakannya. Sumber 

0 komentar:

Posting Komentar

Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!