Tampilkan postingan dengan label nasional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label nasional. Tampilkan semua postingan

Senin, 06 Agustus 2012

Candi Borobudur di tengah kabut pagiDi keheningan Borobudur, sesaat sebelum fajar menyingsing. Dari ufuk timur, muncul semburat cahaya jingga dari balik Gunung Merapi. Matahari pun perlahan muncul dan menebarkan sinar keemasan yang menyingkirkan kabut, memantul dengan indah di stupa dan lorong candi. Menerangi wajah damai Sang Budha.

Menyaksikan matahari terbit dari candi Budha terbesar di dunia itu adalah pengalaman yang luar biasa, bahkan untuk sebagian orang, menggetarkan jiwa.
Untuk itulah situs CNN Go Juni lalu menempatkan Borobudur kala matahari terbit di peringkat pertama 27 tempat yang wajib dikunjungi sebelum mati, yang akan kembali mengingatkan betapa luar biasanya dunia.
Borobudur mengalahkan serangkaian tempat ternama dunia, misalnya Taj Mahal yang ada di urutan 15, Petra di Yordania di urutan 21, atau Sydney Harbour di peringkat 12.

Ini adalah prestasi ketiga Borobudur setelah mendapatkan status Situs Warisan Dunia UNESCO dan rekor Guinness World Records sebagai situs arkeologis Candi Budha terbesar dunia.

Menanggapi itu,  Direktur Taman Wisata Candi (TWC) Borobudur Prambanan Ratu Boko (Persero), Purnomo Siswoprasetjo mengaku sangat bangga. Borobudur kembali diakui dunia.

"Terutama untuk sunrise-nya. Karena Candi Borobudur merupakan tempat yang paling indah untuk menikmati matahari terbit. Ini yang menilai adalah CNN," kata dia kepada VIVAnews, Senin, 6 Agustus 2012.

Penilaian tersebut, dikatakan dia, dilakukan secara independen oleh CNN. Selain itu, peringkat Borobudur yang bertengger di urutan pertama itu berhasil mengalahkan sejumlah obyek wisata di dunia.

"Yang di bawah Borobudur itu masih banyak sekali. Bahkan bisa mengalahkan Taj Mahal yang peringkatnya ada di bawah Borobudur," tuturnya.

Dengan hasil itu, ia pun mengaku sangat mengapresiasi hasil penilaian tersebut. Pihaknya juga akan menjaga supaya turis yang datang tetap bisa dilayani dengan baik.

"Kita berharap jumlah turis yang datang ke Borobudur semakin banyak. Pastinya hasil penilaian dari CNN sebagai tempat paling indah akan menambah kunjungan wisatawan," ujar dia. Daftar 27 peringkat CNN bisa dilihat di tautan ini. 

Sumber : http://nasional.news.viva.co.id/news/read/342237-matahari-terbit-candi-borobudur-memukau-dunia




ACEH – Sungguh malang nasib seorang ibu yang melahirkan putranya di depan teras Rumah Sakit, hingga menyebabkan bayi tersebut meninggal dunia karena tidak dapat pertolongan medis. Hal tersebut terjadi lantaran si ibu ditolak oleh pihak Rumah Sakit Umum Nagan Raya, Aceh.

Nilawati, warga Desa Betong Aceh harus kehilangan anak keduanya, karena di tolak oleh pihak rumah sakit untuk bersalin dengan alasan pihak rumah sakit tidak memiliki obat dan dokter. Dan bayi laki laki tersebut segera dibawa ke rumah warga yang berada tidak jauh dari rumah sakit untuk dimandikan dan segera dibawa pulang ke Desa Betong Ateh untuk di makamkan.

Suami korban, Safrudin mengatakan, dirinya sangat kecewa terhadap rumah sakit yang telah menelantarkan istri dan kandungannya.

“Saya sangat kecewa terhadap pihak rumah sakit karena membuat anak kedua saya meninggal, dan rencananya akan melaporkan ke pihak polisi,” ucapnya kepada wartawan, Minggu (5/8/2012).

Direktur Rumah Sakit Umum Nagan Raya, Dr Hasbi, mengaku dirinya saat kejadian tidak berada di rumah sakit. Karena saat kejadian dirinya sedang berada di kantor Bupati. Hasbi pun mengakui kalau bayi yang telah dilahirkan telah meninggal, agar kejadian tidak semakin besar maka di bujuklah keluarga korban agar ibunya dibawa kembali ke rumah sakit untuk di rawat.

Sumber: bimapedia.com
Kutu Purba Sepuluh Kali Lebih BesarDengan ukuran sepuluh kali lebih besar kutu versi zaman sekarang, entah seperti apa rasanya digigit binatang ini. Beruntung, kutu ini sudah punah.

Ilmuwan menemukan kutu purba dengan kaki yang sanggup mencengkram kulit keras dinosaurus terbesar. Kulit t-rex ssaja sanggup ditembus. Profesor  George Poinar Jnr dari Universitas Negeri Oregon menggambarkan dua spesies kutu buas ini.

Kutu ini memiliki nama Pseudopulex jurassicus dan Pseudopulex magnus.

"Dari ukuran moncong mereka, kita bisa tahu mereka sangat jahat. Tusukannya akan terasa seperti jarum suntik . Tembakan kutu, bukan vaksin flu," ujar Poinar seperti dikutip dari Dailymail.co.uk.

Kutu ini ditemukan di antara fosil-fosil di Mongolia.  Diperkirakan binatang purba ini hidup pada zaman Jurrasic. 

Satu-satunya yang membahagiakan para dinosaurus, kutu ini tidak bisa melompat seperti kutu zaman sekarang. "Fosil kompresi" ini merupakan serangga asli yang diawetkan dengan menjadi fosil selama jutaan tahun.

"Kita harus bersyukur, kutu modern tidak bisa sebesar ini," ujar profesor emeritus zoologi ini.

Penemuan fosil organisme serupa kutu ini berikut hasil penelitiannya dimuat pada jurnal online Current Biology.

Sabtu, 04 Agustus 2012


Nih gan ane share jenis-jenis sate yang ada di indonesia, kuliner ini mungkin udah tak asing lagi bukan bagi agansemua?? bahkan mungkin sate merupakan makanan favorit kalian.tapi apa teman tahu sate itu banyak banget jenis nya di indonesia.tapi kali ini saya hanya posting jenis-jenis sate yang banyak dijual di indonesia,bukan yang nyeleneh. Nah cari tahu yah apa-apa saja sate yang ada dan menjadi kuliner khas indonesia. Check this out


1. Sate Madura

Spoiler for Sate Madura:

Dari sekian banyak jenis sate mungkin sate madura lah yang bisa dibilang paling terkenal, ya sebab dimana-mana ada orang yang jual sate madura. Sate ini disajikan dengan lontong dengan disiram dengan bumbu kacang. Kebanyakan daging yang digunakan adalah daging ayam, sapi atau kambing.
2. Sate Padang

Spoiler for Sate Padang:

Tidak berbeda terkenal-nya dengan sate madura, sate padang juga salah satu kuliner khas yang dimiliki oleh kota padang, jadi bukan hanya rendang dan dendeng aja loh yang terkenal dari kota padang. Tak ada beda nya dengan sate lain, sate padang juga menggunakan daging sapi, kambing atau ayam. Hanya saja kuah dari sate ini pake kuah rendang yang khas dengan warna kemerahan nya. Sate ini pun disajikan dengan lontong.
3. Sate Lilit

Spoiler for Sate Lilit:

Sate lilit adalah sate yang khas dari wilayah pula dewata, bali. Sate lilit kebanyakan dibuat dengan menggunakan daging ayam yang dililitkan di tusukan sate yang gede terbuat dari bambu. Beda banget yah dengan sate lain nya yang menggunakan lidi.
4. Sate Kelinci

Spoiler for Sate Kelinci:

Nah kali ini yang agak nyeleneh, seperti dengan namanya sate kelinci menggunakan bahan baku dari daging kelinci. Penampilan fisik-nya tidak berbeda dengan jenis sate lain pada umum-nya tetapi yang membedakan hanya daging yang digunakan, bagi pecinta hewan kelinci sebaiknya berfikir 100x terlebih dahulu sebelum menyantap hidangan ini. Bayangkan dong hewan se imut kelinci harus berakhir menjadi sate
5. Sate Kuda

Spoiler for Sate Kuda:

Nah kalo yang ini sate kuda, tekstur daging nya tak ada bedanya dengan daging sapi atau kambing. hanya kekerasan nya saja yang membedakan nya, yaitu sate kuda lebih keras daging-nya untuk di kunyah. Sate kuda kebanyakan menggunakan daging kuda yang sudah tidak produktif lagi, yaitu kuda yang sudah tidak bisa lari kencang atau menarik beban lagi, ya bisa dibilang tua gitu. Mungkin saja yang masih produktif otot-otot masih kencang sehingga semakin keras daging-nya untuk dimakan.
6. Sate Rusuk

Spoiler for Sate Rusuk:

Sesuai dengan namanya, sate rusuk asal nya dari daging bagian rusuk dari kambing atau sapi. Sate ini tidak pake tusukan lho, liat aja masih ada rusuk nya. Jadi sate ini dibilang tidak pernah dilepaskan dari tulang nya.
7. Sate Telur Puyuh

Spoiler for Sate Telur Puyuh:

Sate telur puyuh juga banyak dijual, sate ini biasanya untuk teman makan soto atau bubur ayam. Sate ini dari telur puyuh yang dibacem lalu ditusuk dengan tusukan sate. Yummy... enak sekali.
8. Sate Usus

Spoiler for Sate Usus:

Hi...... mungkin dari sekian banyak jenis sate, sate jenis ini lah yang paling tidak direkomendasikan untuk dimakan oleh pakar kesehatan. Bayangin aja, sate ini dibuat dari usus ayam. Padahal menurut penelitian usus ayam terdapat berbagai macam mikroba yang berbahaya untuk kesehatan,selain itu kolestrol nya sangat tinggi. Tidak ada efek sehat, hanya untuk membuat perut kenyang saja. Sate ini sama kayak sate telur puyuh, banyak dimakan orang sebagai teman untuk menikmati soto dan bubur ayam.
9. Sate Ikan

Spoiler for Sate Ikan:

Tampilannya sama kayak sate lainnya, hanya saja daging yang digunakan adalah daging ikan. Kebanyakan menggunakan ikan tongkol, tuna atau cakalang. Selain itu sate ikan ada pilihan yang tepat untuk penderita kolesterol yang gemar menyantap sate.
10. Sate Kerang dan Sate Keong

Spoiler for Sate Kerang dan Sate Keong:

Sate kerang dan sate keong bentuk nya hampir sama, rasa nya pun 11-12 hanya saja sate keong daging nya lebih lembut ketimbang sate kerang. Sate ini banyak dijual di restoran seafood.
11. Sate Belut

Spoiler for Sate Belut:

Sate ini juga enak loh, dari daging belut. Oh iya bagi yang belum pernah nyobain, daging belut itu rasanya seperti daging ayam lho.
12. Sate Cumi

Spoiler for Sate Cumi:

Sate Cumi sesuai dengan nama nya terbuat dari daging cumi-cumi. Sate cumi ditusuk utuh seluruh badan tidak dipotong mulai dari tentakel nya hingga kepalanya. sate ini banyak dijual di restoran seafood.
Gimana gan ada yang mau ditambahin? Atau jenis sate mana yang menjadi favorite agan? Bersyukurlah kita mempunyai negara yang kaya akan berbagai macam kuliner, Keep post and share... Enjoy!!!

sumber :http://www.kaskus.co.id/showthread.php?t=9967383
Pengaturan mengenai syarat sahnya perkawinan yang diatur dalam UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan (“UUP”). Sahnya suatu perkawinan berdasarkan ketentuan dalam Pasal 2 UUP adalah :
 
1.      Apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agama dan kepercayannya. Dalam penjelasan pasal 2 ayat (1) dinyatakan bahwa tidak ada perkawinan di luar hukum agamanya dan kepercayaannya itu.
 
2.      Perkawinan tersebut dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku. Ketentuan mengenai pencatatan perkawinan diatur lebih lanjut dengan PP No. 9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan UU No. 1 Tahun 1974 (“PP No. 9/1975”). Apabila perkawinan dilakukan oleh orang Islam maka pencatatan dilakukan oleh pegawai pencatat sebagaimana dimaksud dalam UU No. 32 Tahun 1954. Sedangkan, bagi mereka yang melangsungkan perkawinan menurut agama dan kepercayaannya di luar agama Islam, maka pencatatan dilakukan pada Kantor Catatan Sipil (lihat Pasal 2 PP No. 9/1975).

Pada dasarnya, hukum perkawinan di Indonesia tidak mengatur secara khusus mengenai perkawinan pasangan beda agama sehingga ada kekosongan hukum. Mengenai sahnya perkawinan adalah perkawinan yang dilakukan sesuai agama dan kepercayaannya sebagaimana diatur dalamPasal 2 ayat (1) UUP. Hal ini berarti UU Perkawinan menyerahkan pada ajaran dari agama masing-masing.
 
Namun, permasalahannya apakah agama yang dianut oleh masing-masing pihak tersebut membolehkan untuk dilakukannya perkawinan beda agama. Misalnya, dalam ajaran Islam wanita tidak boleh menikah dengan laki-laki yang tidak beragama Islam (Al Baqarah [2]: 221). Selain itu, juga dalam ajaran Kristen perkawinan beda agama dilarang (II Korintus 6: 14-18). Lebih lanjut mengenai permasalahan apa saja yang mungkin timbul dalam perkawinan beda agama simak artikel Kawin Beda Agama Itu Kira-kira Bakal Munculin Permasalahan Apa Saja Ya?
 
Dalam hal pihak laki-laki yang beragama Islam, dan dalam ajaran Islam masih diperbolehkan untuk menikah beda agama apabila pihak laki-laki yang beragama Islam dan pihak perempuan beragama lain. Namun, dalam ajaran Katolik yang dianut oleh pasangan Anda pada prinsipnya dilarang adanya perkawinan beda agama.
 
Akan tetapi, pada praktiknya memang masih dapat terjadi adanya perkawinan beda agama di Indonesia. Guru Besar Hukum Perdata Universitas Indonesia Prof. Wahyono Darmabrata, menjabarkan ada empat cara yang populer ditempuh pasangan beda agama agar pernikahannya dapat dilangsungkan. Menurut Wahyono, empat cara tersebut adalah:
1.      meminta penetapan pengadilan,
2.      perkawinan dilakukan menurut masing-masing agama,
3.      penundukan sementara pada salah satu hukum agama, dan
4.      menikah di luar negeri.
     yurisprudensi Mahkamah Agung (MA) yaitu Putusan MA No. 1400 K/Pdt/1986. Putusan MA tersebut antara lain menyatakan bahwa Kantor Catatan Sipil saat itu diperkenankan untuk melangsungkan perkawinan beda agama. Kasus ini bermula dari perkawinan yang hendak dicatatkan oleh Andi Vonny Gani P (perempuan/Islam) dengan Andrianus Petrus Hendrik Nelwan (laki-laki/Kristen).
 
Dalam putusannya, MA menyatakan bahwa dengan pengajuan pencatatan pernikahan di Kantor Catatan Sipil maka Andi Vonny telah memilih untuk perkawinannya tidak dilangsungkan menurut agama Islam. Dengan demikian, Andi Vonny memilih untuk mengikuti agama Andrianus, maka Kantor Catatan Sipil harus melangsungkan dan mencatatkan perkawinan tersebut.  
(Hana)
Kunjungan kerja anggota Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat ke Jerman ditolak Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di Jerman dan Nahdlatul Ulama (NU) cabang istimewa Jerman. Aksi penolakan tersebut disampaikan dalam pertemuan di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Berlin.


Pelajar Indonesia menolak kunjungan anggota DPR
Penolakan pelajar Indonesia terhadap kunjungan DPR itu diunggah ke YouTube. Awalnya, Wakil Ketua Komisi I DPR dari Fraksi Partai Demokrat yang memimpin rombongan, Hayono Isman, memperkenalkan satu per satu anggota Dewan, seperti Tantowi Yahya, Yorris Raweyai dari Fraksi Partai Golkar, dan Vena Melinda Fraksi Demokrat.

ini videonya:
http://www.youtube.com/watch?v=95-pAGcKG1Q

Giliran sesi pertanyaan, pelajar justru membuat pernyataan sikap menolak kedatangan DPR. "Saya melihat anggota Dewan selalu merepotkan KBRI yang kerjanya bukan hanya melayani anggota Dewan dan keluarga," kata pelajar yang mewakili PPI. "Kami juga melihat kedatangan anggota Dewan selalu berjemaah dan berbondong-bondong bersama istrinya."

"Kami melihat kunjungan Bapak-Ibu yang berbondong-bondong ke luar negeri ini seperti orang kampung. Sangat energik dan bersemangat. Apalagi kalau ada produk baru di sini. Kayak anak kecil yang memamerkan di Indonesia punya mainan baru. Bangga sekali," katanya.

PPI juga mempertanyakan urgensi studi banding ke Jerman. "Buat apa datang jauh-jauh bawa istri pula, capek-capek, apalagi dengan buang uang rakyat," katanya. "Melihat rendahnya urgensi kedatangan kali ini yang telah menghabiskan dana Rp 3,1 miliar, kami PPI di Jerman bersama dengan PPI Berlin dan Nahdlatul Ulama cabang istimewa Jerman menolak kedatangan Bapak-Ibu bersama keluarga."

Sudah begitu para anggota dewan yang katanya "terhormat" malah asyik belanja-belanja dan pelesiran. Padahal mereka kesana kan pakai duit rakyat. Benar-benar memalukan sekaligus mnyedihkan.

Rombongan anggota DPR tertangkap kamera sedang berbelanja oleh mahasiswa Indonsia

Anggota Komisi I DPR, Hayono Isman turun dari mobil hendak berbelanja di Berlin

Anggota Komisi I DPR, terlihat berbelanja di salah satu butik di tengah kota Berlin

Habis belanja, Hayono Isman bayar di kasir

Hayono Isman hendak memasuki mobil setelah berbelanja

Disaat rakyat menjerit karena kesulitan hidup, di Eropa sana mereka malah ketawa-ketiwi dan berfoya-foya menghabiskan duit rakyat. Pantas saja kalau mahasiswa Indonesia di Jerman mengatai mereka ini : "kampungan".
(Atjeh Post,Youtube,Tempo,PPI Berlin)
http://owuniq.blogspot.com/

http://memobee.com/index.php?do=c.every_body_is_journalist&idej=2695
Loading image...Benedict Anderson menemukan indikasi bahwa eksekutor lapangan Tjakrabirawa yang menculik para jenderal adalah "komunitas Madura", yang di antaranya sudah dikenal oleh Ali Moertopo, intelijen Soeharto sejak 1950-an.
Lelaki tua itu duduk bersandar di atas sebuah dipan besi. Dengan susah payah ia menyuapkan nasi dan lauk itu ke mulutnya. Beberapa butir nasi jatuh di atas seprai. Sudah enam bulan ini Boengkoes, nama lelaki 82 tahun itu, terbaring lemah di tempat tidur. Stroke melumpuhkannya. Mantan bintara Tjakrabirawa itu, seperti dilihat Tempo di rumah anaknya di Besuki, Situbondo, Jawa Timur, kini menghabiskan sisa hidupnya di atas dipan besi. Boengkoes adalah salah seorang pelaku dalam tragedi 30 September 1965. Pria berdarah Madura, yang saat itu berpangkat sersan mayor, ini bertugas menjemput Mayor Jenderal M.T. Harjono, Deputi III Menteri/Panglima Angkatan Darat.

Dalam sebuah wawancara dengan Tempo setelah bebas dari LP Cipinang pada 1999, Boengkoes menceritakan tugasnya itu dengan terperinci. Pada 30 September 1965 sekitar pukul 15.00. "Dalam briefing itu dikatakan ada sekelompok jenderal yang akan 'mengkup' Bung Karno, yang disebut Dewan Jenderal. Wah, ini gawat, menurut saya."

Ia menyangka perintah itu baru akan dilaksanakan setelah 5 Oktober 1965. Namun, pada pukul 08.00, dipimpin oleh Dul Arief, pasukannya kembali ke Halim. Sekitar pukul 03.00 keesokan harinya, kata Boengkoes, komandan komandan pasukan berkumpul lagi. "Lalu, pasukan Tjakra dibagi tujuh oleh Dul Arief dan dikasih tahu sasarannya. Saya kebagian (Mayor) Jenderal M.T. Harjono," ujar Boengkoes. Boengkoes kemudian berhasil menembak M.T. Harjono. "Setelah sampai sana (Lubang Buaya), mayatnya saya serahkan ke Pak Dul Arief." Seluruh pengakuan Boengkoes ini menarik minat Ben Anderson, Indonesianis dari Universitas Cornell. Ben pada 2002 sampai datang lagi ke Indonesia menemui Boengkoes di Besuki. Pertemuannya itu menghasilkan paper setebal 61 halaman, The World of Sergeant-Mayor Bungkus, yang dimuat di Jurnal Indonesia Nomor 78, Oktober 2004.

Paper ini, menurut Ben, melengkapi Cornell Paper yang terkenal itu. Pada 1966—setahun setelah peristiwa berdarah—bersama Ruth McVey dan Fred Bunnel, Ben menulis Cornell Paper. Pada saat itu Ben mengira bahwa inti serdadu yang bergerak di lapangan adalah orang-orang Jawa. Anggapan ini berubah setelah Ben bertemu dengan Boengkoes. Ia melihat fakta menarik bahwa hampir semua serdadu yang ditugasi menculik berdarah Madura. Pimpinan lapangannya juga berdarah Madura.
 

Pimpinan lapangan penculikan, seperti dikatakan Boengkoes di atas, adalah Dul Arief. Dul Arief adalah serdadu berdarah Madura. Nah, menurut Ben, Dul Arief adalah orang yang sangat dekat dengan Ali Moertopo, intelijen Soeharto. Dul dikenal Ali sejak Benteng Raiders memerangi Darul Islam di Jawa Tengah dan Jawa Barat pada 1950-an.

Perihal apakah benar Dul Arief dekat dengan Ali Moertopo, Tempo mencoba mengecek kepada Letnan Kolonel Udara (Purnawirawan) Heru Atmodjo, yang oleh Untung diikutkan dalam Dewan Revolusi. Heru sendiri berdarah Madura. Dan ternyata jawabannya mengagetkan: "Dul Arief itu anak angkat Ali Moertopo," kata Heru kepada Erwin Dariyanto, dari Tempo.
 

Dalam paper Ben, anggota Tjakra lain yang berdarah Madura adalah Djahurup. Ini pun informasi menarik. Sebab, Djahurup, oleh Letnan Kolonel CPM (Purnawirawan) Suhardi diceritakan (baca: Perwira Kesayangan Soeharto), adalah orang yang ingin menerobos Istana pada 29 September, tapi kemudian dihadangnya.
Ben menemukan fakta bahwa ternyata Boengkoes telah mengenal akrab Dul Arief sejak 1947. Saat itu mereka bergabung dalam Batalion Andjing Laut di Bondowoso. Boengkoes mengawali karier semasa revolusi di Batalion Semut Merah Tentara Keamanan Rakyat (TKR) pada 1945 di Situbondo.

Setelah Semut Merah dihancurkan Belanda pada Juli 1947, ia bergabung dengan Batalion Andjing Laut di Bondowoso dengan pangkat prajurit satu. Sebagian besar personel Andjing Laut adalah orang-orang setempat keturunan Madura.
Selama clash kedua dengan Belanda, Boengkoes bertempur di sejumlah daerah, seperti di Kediri, Madiun, dan Yogyakarta. Ia juga pernah bertugas di Seram. Pada 1953, pasukan Andjing Laut ditarik dari Seram. Seluruh personel Andjing Laut tak kembali ke Brawijaya, melainkan bergabung dengan Divisi Diponegoro di Salatiga, Jawa Tengah.

Di Divisi Diponegoro, nomor batalion berubah dari 701 menjadi 448. Namun, nama Andjing Laut tetap mereka pertahankan. Kemudian Andjing Laut menjadi bagian dari Brigade Infanteri. Hampir seluruh personelnya berdarah Madura. "Dul Arief, Djahurup, dan Boengkoes berada dalam satu batalion 448 Kodam Diponegoro," kata Heru Atmodjo. Dan yang mengejutkan lagi: "Komandannya waktu itu Kolonel Latief," kata Heru.

Itu artinya, dapat kita simpulkan bahwa Kolonel Latief pun sudah mengenal para eksekutor Tjakrabirawa sejak dulu. Setelah menyelesaikan Sekolah Kader Infanteri, Boengkoes dipindah ke Cadangan Umum di Salatiga. Cadangan Umum adalah gabungan pasukan Garuda I dan II yang baru pulang bertugas di Kongo. Ada dua unit pasukan Cadangan Umum di Semarang, yakni baret hijau di Srondol dan baret merah di Mudjen. Dan informasi yang mengagetkan lagi: komandan baret hijau di Srondol saat itu, menurut Boengkoes, adalah Untung!

Ketika bertugas di Cadangan Umum inilah Boengkoes direkrut masuk Banteng Raiders I di Magelang. Tak lama kemudian ia direkrut pasukan Tjakrabirawa. Meski sudah bersama dengan Untung sejak di Banteng Raiders, Boengkoes mengaku kepada Ben Anderson baru bertemu dengan Untung ketika sudah di Jakarta. "Saya belum kenal dia waktu di Srondol," tuturnya.

Boengkoes tidak menghadapi kesulitan saat masuk Tjakrabirawa. Padahal Boengkoes menderita wasir dan disentri. "Penyakit itu saya sudah katakan. Tapi besoknya, saya diberi tahu bahwa saya sehat. Jadi saya senang." Boengkoes tak sendirian. Ada seratusan personel Banteng Raiders yang juga lolos seleksi. "Dari Jawa Tengah, jumlah kami yang lolos seleksi cukup untuk membentuk satu kompi," ujar Boengkoes. Tugas mereka menggantikan Polisi Militer berjaga di Istana Presiden.

Kepada Ben, Boengkoes menyebut Dul Arief sebagai kawan sehidup-semati. Keduanya kerap berbincang dalam bahasa Madura. Bongkoes bercerita, suatu waktu dia dan Dul Arief pergi jalan-jalan ke Pasar Senen, Jakarta. Di sebuah pertigaan, ada warung cendol. Di papan namanya tertulis "Dawet Pasuruan". Ada dua gadis berparas manis yang membantu pedagang cendol itu.

"Kami duduk ngobrol dan ngrasani gadis itu dengan bahasa Madura. Tapi kok mereka kemudian tersenyum senyum. Saya mulai curiga," ujar Boengkoes. Ternyata kemudian, pemilik warung tersebut mengaku berasal dari Pasuruan, Jawa Timur.

Dan kedua gadis tersebut mengerti bahasa Madura. "Wah, mati aku," ujar Boengkoes. Yang aneh, menurut Ben Anderson, setelah tragedi September itu Dul Arief, si anak angkat Ali Moertopo, dan Djahurup seolah hilang tak berbekas. Menurut Heru, beberapa hari setelah G-30-S dinyatakan gagal, 60 anggota Batalion I Kawal Kehormatan Tjakrabirawa berusaha lari dari Jakarta menuju Jawa Tengah. Di Cirebon, pasukan CPM menghadang mereka. Kepada Tempo, Maulwi Saelan, mantan Wakil Komandan Resimen Tjakrabirawa, menceritakan ke-60 orang tersebut mampir di sebuah asrama TNI di Cirebon karena tidak membawa bekal makanan. Salah satu prajurit di asrama tersebut berinisiatif melapor kepadanya. "Saya perintahkan mereka untuk ditahan dulu. Pasukan dari Jakarta yang akan menjemput," kata Maulwi.

Tapi kemudian Dul Arief dan Djahurup hilang, lenyap. Hanya Kopral Hardiono, bawahan Dul Arief, yang kemudian disidang di Mahkamah Militer Luar Biasa pada 1966 dan dituduh bertanggung jawab atas penculikan para jenderal tersebut.

"Dul Arief dan Djahurup tidak bisa dihadirkan dalam persidangan (Mahmilub)," kata Heru. Apakah keduanya "diamankan" Ali Moertopo? Entahlah.

Kesaksian Serma Boengkoes

“Gelap. Saya coba cari stop kontak, saya raba-raba dinding. Tiba-tiba ada bayangan putih lari. Anak buah saya berteriak, 'Pak, ada bayangan putih.' Saya mengangkat senjata dan dor...."
Penembak itu adalah Boengkoes, mantan bintara Tjakrabirawa. Pangkat terakhirnya sebelum mendekam selama 33 tahun di Lembaga Pemasyarakatan Cipinang, Jakarta, adalah sersan mayor. Menurut Hernawati, anak kedua Boengkoes, sudah enam bulan ini ayahnya tergolek lemah karena stroke. Ia susah berbicara. Tangan dan kedua kakinya setengah lumpuh. Ia kini terbaring di rumah anak keempatnya, Juwatinah, yang berdempetan dengan rumah Hernawati di Jalan PG Demaas, Dusun Kalak, Desa Demaas, Kecamatan Besuki, Situbondo, Jawa Timur.

Hernawati tak mengizinkan Tempo menemui ayahnya. Ia hanya mengizinkan Slamet Wagiyanto, 30 tahun, anak keduanya, untuk memotret sang kakek. "Percuma, Bapak tidak bisa bicara dan ingat apa pun," ujar Hernawati. Boengkoes tinggal di Situbondo setelah mendapatkan grasi dari Presiden B.J. Habibie pada 25 Maret 1999. Di kota inilah istri dan anak-anaknya tinggal setelah Boengkoes masuk bui. Sebelumnya, keluarga Boengkoes tinggal di Semarang, Jawa Tengah. Ia menikah dengan Jumaiyah (kini 70 tahun) dan dianugerahi enam anak.

Hernawati berkisah, sebelum menderita stroke, ayahnya lebih banyak menghabiskan waktunya di pekarangan belakang rumah. Di atas lahan berukuran 10 x 15 meter itu, Boengkoes merawat 10 ayam kampung dan suka menanam pisang. "Ayamnya sekarang tinggal tiga ekor karena nggak ada yang ngerawat lagi," kata Hernawati.

Hobi lain lelaki kelahiran Desa Buduan, Besuki, itu adalah menyanyikan lagu keroncong. Lagu favoritnya: Sepasang Mata Bola dan Bengawan Solo. Menurut Hernawati, hanya itulah kegiatan Boengkoes setelah bebas dari bui. Ia tak aktif di kegiatan kampung. Boengkoes juga tak pernah bertemu dengan temantemannya sesama mantan tahanan politik.

Kepada anak-anaknya pun ia tak pernah bercerita tentang pengalamannya di dalam penjara atau saat berdinas di Tjakrabirawa. Hernawati mengatakan ayahnya tak mau menambah beban keluarganya. Dulu, setiap tahun beban itu terasa makin berat ketika televisi memutar film Pengkhianatan G-30-S/PKI. Saat film itu diputar, keluarganya tak pernah berani keluar dari rumah. Hampir seisi kampung tahu Boengkoes terlibat dalam pembunuhan para jenderal.

Namun, sepahit apa pun pengalaman masa lalu ayahnya, Hernawati tetap yakin ayahnya tak bersalah. "Ayah cuma bawahan yang menjalankan perintah atasan," tuturnya. Boengkoes pada 1999, selepas keluar dari penjara, dalam sebuah kesempatan wawancara, mengatakan hal yang sama, "Nggak ada, tentara kok merasa bersalah, mana ada...."

Boengkoes kini terkena stroke. Entah apakah ia masih ingat detik-detik ketika masuk mendobrak rumah M.T. Harjono. Thompsonnya melepaskan tembakan pada bayangan putih itu. Dan, saat lampu dinyalakan, tubuh M.T. Harjono tak berdaya. Peluru menembus tubuhnya dari punggung sampai perut.

Misteri Rekaman Tape

Di depan Mahkamah Militer Luar Biasa, Untung menghadirkan saksi Perwira Rudhito Kusnadi Herukusumo, yang mendengar rekaman rahasia rapat Dewan Jenderal.

Letnan Kolonel Untung bin Syamsuri layaknya seorang pelaku kriminal. Turun dari panser, lelaki cepak bertubuh tegap itu tampak menggigil ketakutan. Kepalanya menunduk, takut menatap ratusan orang yang tak henti menghujatnya. Bekas Komandan Batalion I Tjakrabirawa itu juga gamang ketika akan menembus barikade massa Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia, yang menyemut di pelataran parkir gedung Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Jakarta.

Kala itu, Rabu, 23 Februari 1966, pukul 9 pagi. Di lantai dua gedung di Jalan Taman Suropati Nomor 2 itu, Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmilub) mengadili Untung, 40 tahun, bekas Ketua Dewan Revolusi Indonesia, dengan tuduhan makar.

Saat akan memasuki gedung itulah Untung terus mendapat hujatan dan cemoohan massa. Letnan I Dra Sri Hartani, yang saat itu menjadi protokoler atau semacam pembawa acara sidang, ingat intimidasi massa tersebut membuat nyali Untung ciut. "Untung terlihat takut dan tidak terlihat seperti ABRI. Padahal kalau ABRI tidak begitu," kata Sri, kini 69 tahun, kepada Tempo di rumahnya di Jakarta Pusat pada pertengahan September lalu.

Sri menyatakan Untung menjadi orang kedua setelah Njono, tokoh Partai Komunis Indonesia, yang diperiksa dan diadili di Mahmilub 2 Jakarta. Di depan Mahmilub, Untung sangat yakin bahwa Dewan Jenderal itu ada. Menurut Untung, ia mendengar adanya Dewan Jenderal dari Rudhito Kusnadi Herukusumo, seorang perwira menengah Staf Umum Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat-6. Untung mengatakan, kepada dirinya, Rudhito mengaku mendengar rekaman tape hasil rapat Dewan Jenderal pada 21 September 1965 di gedung Akademi Hukum Militer (AHM), Jalan Dr Abdurrachman Saleh I, Jakarta.

Rekaman itu berisi pembicaraan tentang kudeta dan susunan kabinet setelah kudeta. Itu sebabnya, Untung ngotot menghadirkan Rudhito sebagai saksi dalam persidangan. Rudhito kemudian dihadirkan di Mahmilub 2. Dalam kesaksiannya, seperti dapat kita baca dalam buku proses mahmilub Untung (1966), Rudhito memang mengaku pernah melihat tape rekaman tersebut dan sudah melaporkannya kepada Presiden Soekarno.

Rudhito menjelaskan, dirinya menerima tape rekaman yang dia dengar dan catatan tentang isinya pada 26 September 1965 di ruangan depan gedung Front Nasional. Dia menerima bukti itu dari empat orang, yakni Muchlis Bratanata dan Nawawi Nasution, keduanya dari Nahdlatul Ulama, plus Sumantri Singamenggala dan Agus Herman Simatoepang dari IP-KI.

Menurut Rudhito, keempat orang itu mengajaknya membantu melaksanakan rencana-rencana Dewan Jenderal. Mereka mengajak karena kapasitasnya selaku Ketua Umum Ormas Central Comando Pendukung Negara Kesatuan Republik Indonesia. Rencana Dewan Jenderal itu adalah mengudeta Soekarno seperti cara-cara di luar negeri. Misalnya Soekarno akan disingkirkan seperti matinya Presiden Republik Korea Selatan Sihgman Ree.
Selanjutnya, tutur Rudhito, jika belum berhasil, akan dibuat seperti hilangnya Presiden Bhao dari Vietnam Selatan. "Kalau masih tidak bisa juga, Soekarno akan 'di-Ben Bella-kan’," pria berusia 40 tahun ini menjelaskan isi rekaman di depan Mahkamah. "Di-Ben Bella-kan" maksudnya adalah dikudeta dengan cara seperti Jenderal Boumedienne terhadap Presiden Aljazair bernama Ahmad Ben Bella.

Lebih jauh rekaman tersebut, menurut Rudhito, juga berisi pembicaraan mengenai siapa nanti yang duduk dalam kabinet apabila kudeta sukses dijalankan. Ada nama Jenderal Abdul Haris Nasution sebagai calon perdana menteri, Letnan Jenderal Ahmad Yani sebagai wakil perdana menteri I merangkap menteri pertahanan dan keamanan, Letnan Jenderal Ruslan Abdul Gani sebagai wakil perdana menteri II merangkap menteri penerangan, dan Mayor Jenderal S. Parman sebagai menteri jaksa agung serta masih ada beberapa nama lagi.
"Dalam rekaman, saya ingat almarhum Jenderal S. Parman yang membacakan susunan kabinet itu," ujar Rudhito. Bukti dokumen-dokumen Dewan Jenderal, menurut Rudhito, sebagian besar ada pada Brigadir Jenderal Supardjo. Dokumen itu juga sudah sampai di tangan Presiden Soekarno, Komando Operasi Tertinggi Retuling Aparatur Revolusi dan Departemen Kejaksaan Agung.

Nah, dari dokumen yang dipegang Supardjo itu sebenarnya terendus ada uang cek penerimaan dari luar negeri untuk anggota Dewan Jenderal yang aktif. "Kalau tidak salah hal itu telah dipidatokan Presiden Soekarno bahwa uang Rp 150 juta itu merupakan suatu fondsen atau dana pensiun bagi masing-masing anggota Dewan Jenderal yang aktif," tutur Rudhito.

Hanya, Rudhito—mengaku di Mahmilub— tak menyimpan tape rekaman itu. Dan hal itu dinilai oleh Mahkamah sebagai unus testis nullus testis, yang berarti keterangan saksi sama sekali tak diperkuat alat-alat bukti lainnya, sehingga tak mempunyai kekuatan bukti sama sekali. Selain itu, apa yang dikemukakan Rudhito, menurut Mahkamah, sama sekali tak benar. Rapat Dewan Jenderal yang diadakan di gedung AHM pada 21 September 1965 nyatanya cuma suatu commander's call Komando Pendidikan dan Latihan Angkatan Darat—berdasarkan surat bukti hasil rapat tersebut yang didapat Mahkamah.

Mahkamah berpendapat, Dewan Jenderal yang hendak melakukan kudeta ternyata baru merupakan info yang bersumber dari Sjam Kamaruzzaman dan Pono—utusan Ketua CC PKI D.N. Aidit—yang tak terbukti kebenarannya. Berdasarkan itu, Mahkamah memvonis Untung bersalah karena melakukan kejahatan makar, pemberontakan bersenjata, samen-spanning atau konspirasi jahat, dan dengan sengaja menggerakkan orang lain melakukan pembunuhan yang direncanakan.

Ahad, 6 Maret 1966, Mahkamah memutuskan menghukum Untung dengan hukuman mati. Saat itu yang bertindak sebagai hakim ketua adalah Letnan Kolonel Soedjono Wirjohatmojo, SH, dengan oditur Letnan Kolonel Iskandar, SH, dan panitera Kapten Hamsil Rusli. Dan tak lama berselang Untung dikabarkan meregang nyawa di depan regu tembak.

“Cornell Paper", yang disusun Ben Anderson dan Ruth McVey setelah meletus Gerakan 30 September, mengesankan bahwa gerakan itu merupakan peristiwa internal Angkatan Darat dan terutama menyangkut Komando Daerah Militer Diponegoro. Tentu saja pandangan tersebut merupakan versi awal yang belum lengkap walau tetap menarik untuk diulas dan diteliti lebih lanjut.

Setelah tiga dekade di penjara, Soebandrio, Wakil Perdana Menteri/Menteri Luar Negeri/Kepala Badan Pusat Intelijen, mengelaborasi versi di atas. Walaupun sama-sama berasal dari Diponegoro, terdapat trio untuk dikorbankan (Soeharto, Untung, Latief) dan ada trio untuk dilanjutkan (Soeharto, Yoga Soegama, dan Ali Moertopo). Dari dua trio itu terlihat bahwa baik pelaku gerakan maupun pihak yang menumpasnya berasal dari komando daerah militer yang sama, yakni Kodam Diponegoro. Itu pula yang menjelaskan bahwa gerakan tersebut tampil hanya di Jakarta dan di wilayah Kodam Diponegoro (Semarang dan Yogyakarta) dan dapat dipadamkan dalam hitungan hari. Alasan itulah yang digunakan kenapa Soeharto tidak masuk daftar orang yang diculik: ia dianggap "kawan", minimal "bukan musuh". Soeharto dan Latief sama-sama ikut dalam Serangan Umum 1 Maret 1949, yang kemudian dijadikan hari sangat bersejarah oleh pemerintah Orde Baru.

Pada malam 30 September 1965, Latief menemui Soeharto di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Subroto, Jakarta. Bahkan beberapa hari sebelumnya, Latief bersama istrinya sempat berkunjung ke rumah Soeharto di Jalan Agus Salim. Walau tidak sedekat dengan Latief, Soeharto berhubungan baik dengan Untung. Kabarnya, sewaktu Untung menikah di Kebumen, Soeharto menghadirinya. Di jalur yang lain, hubungan Yoga Soegama dan Ali Moertopo terbina ketika mereka melakukan serangkaian manuver untuk mendukung Soeharto menjadi Komandan Teritorium IV, yang kemudian menjadi Kodam Diponegoro.

Ketika pasukan Tjakrabirawa dibentuk pada 6 Juni 1962, terdapat satu batalion Angkatan Darat. Sejak Mei 1965, batalion ini dipimpin oleh Letnan Kolonel Untung, yang karena keberaniannya dalam operasi Tritura mendapatkan Bintang Sakti. Ada informasi yang perlu diteliti lagi bahwa Kapten Rochadilah yang "mengajak" Untung bergabung ke pasukan pengamanan presiden.

Rochadi adalah anggota Tjakrabirawa yang ikut dalam salah satu rombongan delegasi Indonesia ke Beijing pada 25 September 1965 dan sejak itu terhalang pulang. Terakhir ia memperoleh suaka di Swedia dan berganti nama menjadi Rafiuddin Umar (meninggal pada 2005). Di kalangan eksil 65 di Swedia, ia agak tertutup. Kapten Rochadi berasal dari batalion yang pernah dipimpin Letnan Kolonel Untung di Kodam Diponegoro.
Ben Anderson memulai analisisnya dengan mengutarakan karakter "Jawa" dari Divisi Diponegoro yang Panglima Kodamnya sejak awal sampai 1965 berasal dari "Yogya-Banyumas-Kedu". Sulit dibayangkan seorang Batak atau Minahasa menjadi Panglima Kodam Diponegoro, seperti yang terjadi pada Kodam Siliwangi. Kodam Diponegoro berada pada wilayah yang sangat padat penduduk, pangan tidak seimbang, serta berpaham komunisme dan sentimen anti-aristokrat cukup kuat. Ketidakpuasan muncul di kalangan perwira Diponegoro, seperti Kolonel Suherman, Kolonel Marjono, dan Letnan Kolonel Usman Sastrodibroto (dan di Jakarta terdapat Kolonel Latief dan Letnan Kolonel Untung) terhadap para perwira tinggi yang dinilai hidup mewah di tengah kemiskinan rakyat, termasuk tentara.

Stroke ringan yang dialami Presiden Soekarno (4 Agustus 1965), beredarnya dokumen Gilchrist dan isu Dewan Jenderal akan melakukan kudeta (5 Oktober 1965) menambah panas suasana politik. Sebagai komandan batalion militer dalam pasukan yang tugasnya mengamankan presiden, Untung "terpanggil" untuk menyelamatkan presiden dari ancaman para jenderal tersebut dengan "mendului" mereka melalui Gerakan 30 September.

Walaupun namanya tertulis sebagai komandan gerakan tersebut, kenyataan di lapangan memperlihatkan bahwa Untung bukanlah pemimpin utama aksi ini, karena berbagai hal ditentukan oleh Sjam Kamaruzzaman dari Biro Chusus PKI. Ketika banyak persiapan (tank, senjata, logistik, dan personel) masih kacau, Untung tidak mengambil keputusan menunda aksi ini.

Mereka lebih mendengar Sjam, yang berujar, "Kalau mau revolusi ketika masih muda, jangan tunggu sampai tua, "dan "Ketika awal revolusi banyak yang takut, tetapi ketika revolusi berhasil semua ikut." Gerakan 30 September yang dilakukan secara ceroboh itu rontok dalam hitungan hari. Dokumen Supardjo—dianggap cukup sahih—memperlihatkan bahwa kelemahan utama Gerakan 30 September adalah tidak adanya satu komando. Terdapat dua kelompok pimpinan, yakni kalangan militer (Untung, Latief, dan Sudjono) dan pihak Biro Chusus PKI (Sjam, Pono, dan Bono).

Sjam memegang peran sentral karena ia berada dalam posisi penghubung di antara kedua pihak ini. Namun, ketika upaya ini tidak mendapat dukungan dari Presiden Soekarno, bahkan diminta agar dihentikan, kebingungan terjadi. Kedua kelompok itu terpecah. Kalangan militer ingin mematuhi, sedangkan Biro Chusus melanjutkan.

Ini dapat menjelaskan mengapa antara pengumuman pertama dan kedua serta ketiga terdapat selang waktu sampai lima jam. Sesuatu yang dalam upaya kudeta merupakan kesalahan besar. Pada pagi hari, mereka mengumumkan bahwa presiden dalam keadaan selamat. Sedangkan pengumuman berikutnya pada siang hari sudah berubah drastis (pembentukan Dewan Revolusi dan pembubaran kabinet). Jadi, dalam tempo lima jam, operasi "penyelamatan Presiden Soekarno" berubah 180 derajat menjadi "percobaan makar melalui radio".

Uraian di atas sekali lagi memperlihatkan bahwa Untung bukanlah komandan Gerakan 30 September yang sesungguhnya. Ia bisa diatur oleh Sjam Kamaruzzaman. Untung dieksekusi pada 1969. Sebelumnya, di penjara Cimahi, ia menuturkan kepada Heru Atmodjo (Letnan Kolonel Udara Heru Atmodjo pada 1965 menjabat Asisten Direktur Intelijen AURI) bahwa ia tidak percaya akan ditembak mati karena hubungan baiknya dengan Jenderal Soeharto. Namun, Untung memang tidak beruntung.
Resimen Khusus Tjakrabirawa dibentuk berdasarkan Surat Keputusan Panglima Tertinggi Angkatan Perang Republik Indonesia No. 211/PLT/1962 tanggal 5 Juni 1962. Tjakrabirawa dibentuk sebagai suatu resimen khusus di bawah Presiden yang diberi tanggung jawab penuh untuk menjaga keselamatan pribadi Presiden/Panglima Tertinggi Angkatan Perang Republik Indonesia beserta keluarganya. Resimen ini terdiri atas Detasemen Kawal Pribadi, Batalion Kawal Pribadi, dan Batalion Kawal Kehormatan.

Pembentukan Tjakrabirawa merupakan tanggapan strategis atas upaya pembunuhan terhadap Presiden Soekarno, yang terjadi pada 14 Mei 1962 saat Presiden bersembahyang Idul Adha di Masjid Baitturahman di kompleks Istana Merdeka, Jakarta.

Sebagai suatu resimen khusus, Tjakrabirawa dipersiapkan sebagai suatu kesatuan militer yang memiliki kualifikasi setingkat kesatuan komando. Dalam suatu wawancara dengan Benedict Anderson dan Arief Djati (Indonesia No. 78, Oktober 2004), mantan komandan peleton Tjakrabirawa, Sersan Mayor Boengkoes, menceritakan sulitnya rangkaian tes yang harus dijalani oleh seorang prajurit ABRI untuk dapat bergabung di Tjakrabirawa.

Tidak seperti pembentukan kesatuan-kesatuan baru lainnya yang sekadar mengandalkan penggabungan dari beberapa peleton dan kompi untuk membentuk satu batalion, resimen khusus Tjakrabirawa dibentuk berdasarkan kumpulan individu yang berhasil lulus dari rangkaian tes seleksi. Keketatan tes seleksi Tjakrabirawa tampak dari data bahwa hanya 3-4 prajurit dari satu kompi suatu batalion yang berkualifikasi raider atau paratrooper atau airborne yang mendapat panggilan untuk mengikuti tes seleksi.

Letnan Kolonel Untung, yang berperan sebagai pimpinan militer Gerakan 30 September, misalnya, dari 1954 sampai 1965 bertugas di Batalion 454 Banteng Raiders yang memiliki kualifikasi paratroop-airborne. Pada 1961, Untung memimpin salah satu kompi relawan dalam Operasi Naga yang mengawali tahap infiltrasi penyerbuan Irian Barat di bawah pimpinan Panglima Komando Mandala Mayor Jenderal Soeharto.

Atas keberaniannya dalam Operasi Naga, Untung, bersama L.B. Moerdani sebagai pimpinan kompi relawan lainnya, mendapatkan penghargaan Bintang Sakti dari Presiden Soekarno. Pada Februari 1965, Letkol Untung, yang saat itu menjabat Komandan Batalion 454 Banteng Raiders, dipromosikan menjadi Komandan Batalion I Tjakrabirawa.

Kualifikasi khusus yang dimiliki Tjakrabirawa tidak langsung menjadikan Tjakrabirawa suatu kesatuan militer yang mampu melakukan kudeta pada 1 Oktober 1965. Kompi Tjakrabirawa di bawah pimpinan Letnan Satu Dul Arief dipilih menjadi penjuru Pasukan Pasopati untuk melaksanakan operasi penculikan para jenderal karena kesatuan ini berada langsung di bawah Presiden (bukan di bawah Markas Besar AD) sehingga saat melaksanakan operasi tidak akan menimbulkan kecurigaan dari para jenderal TNI-AD.

Keterlibatan Tjakrabirawa lebih ditentukan oleh sosok Letkol Untung, yang memiliki rekam jejak militer yang memungkinkannya membangun jejaring militer dengan kesatuan-kesatuan AD lainnya yang bergabung dalam Gerakan 30 September, yaitu Batalion 454, Batalion 530, dan Brigade I. Beberapa peleton dari ketiga kesatuan ini memperkuat Pasukan Pasopati. Batalion 454 dan 530 juga digelar untuk melakukan pengamanan Istana dan kantor RRI.

Jejaring Letkol Untung dengan Batalion 454 telah dibangun sejak 1954. Saat Gerakan 30 September digelar, Batalion 454 dipimpin oleh Mayor Kuntjoro Judowidjojo, yang menjadi wakil komandan batalion saat Letkol Untung menjabat Komandan Batalion 454. Kedekatan Letkol Untung dengan Komandan Brigade I Kodam Djaya Kolonel A. Latief, yang juga berperan dalam Gerakan 30 September, diawali di Batalion 454. Sebelum dipindahkan ke Jakarta pada 1963, Brigade I merupakan bagian dari Tjadangan Umum Angkatan Darat (Tjaduad) yang bermarkas di Ungaran, dekat dengan markas Batalion 454.

Jika jejaring Letkol Untung yang dijadikan rujukan untuk mengurai keterlibatan kesatuan-kesatuan AD dalam Gerakan 30 September, pusat jejaring Gerakan ini bisa dilacak dari Batalion 454 Banteng Raiders. Secara taktis militer, bisa dikatakan bahwa titik awal dan titik akhir Gerakan 30 September adalah Batalion 454.

Karier militer cemerlang Letkol Untung yang membawanya ke jabatan Komandan Batalion I Tjakrabirawa berawal dari Batalion 454. Komandan Kompi Tjakrabirawa yang juga Komandan Pasukan Pasopati, Letnan Satu Dul Arif, juga pernah bertugas di Banteng Raiders langsung di bawah pimpinan Mayor Ali Moertopo.

Penugasan ini terjadi pada akhir 1952, saat Banteng Raiders digelar melawan Batalion 426 yang memberontak dan bergabung dalam gerakan Darul Islam di perbatasan Jawa Tengah-Jawa Barat. Kesatuan Banteng Raiders sendiri dibentuk oleh Kolonel Ahmad Yani pada Juni 1952. Sebagai komandan brigade di wilayah Jawa Tengah bagian barat, Kolonel Ahmad Yani memiliki ide membentuk kesatuan khusus yang dapat diandalkan untuk melawan pemberontakan Darul Islam.

Kesatuan Banteng Raiders bentukan Ahmad Yani ini akhirnya menjadi Batalion 454. Pada 1961, Batalion 454 (dan Batalion 530) dijadikan bagian dari Tjaduad yang dipimpin oleh Mayor Jenderal Soeharto. Tjaduad yang dibentuk oleh KSAD Jenderal A.H. Nasution ini ditingkatkan menjadi Kostrad pada Februari 1963.

Sebagai pimpinan Kostrad, Mayor Jenderal Soeharto mengundang Batalion 454 (dan Batalion 530) untuk berpartisipasi dalam perayaan 5 Oktober 1965. Sebagai Panglima Kostrad, Mayor Jenderal Soeharto mengambil alih kepemimpinan operasional AD dan memimpin operasi penumpasan Gerakan 30 September. Dalam operasi penumpasan ini, Panglima Kostrad memerintahkan pasukan baret merah RPKAD menghentikan petualangan militer pasukan baret hijau Batalion 454.

Sejarah akhirnya mencatat bahwa penumpasan Gerakan 30 September berakhir dengan gelar operasi khusus yang dipimpin oleh Letkol Ali Moertopo yang juga alumnus Banteng Raiders. Operasi khusus ini menjadi awal kelahiran Kopkamtib yang turut memperkuat rezim politik-militer Orde Baru.

Kamis, 02 Agustus 2012



Industrialisasi dan pencemaran lingkungan mengubah wajah beberapa sungai di dunia menjadi sebuah wabah penyakit dan tak lagi bermanfaat bagi manusia. Tiga sungai ini misalnya, disebut-sebut sebagai yang paling tercemar di antara semuanya. Sungai-sungai ini tak layak untuk didatangi, apalagi jadi habitat berbagai flora dan fauna!

Berikut 3 sungai paling tercemar di dunia berdasarkan situs Best Reviewer, Selasa (31/7):

1. Sungai Citarum, Indonesia

Citarum adalah sungai terpanjang dan terbesar di Jawa Barat. Selain untuk pertanian, air Sungai Citarum juga digunakan untuk berbagai keperluan industri dan PLTA. Sayangnya, industri ini pula yang jadi salah satu penyebab tercemarnya Sungai Citarum. Setiap hari, masyarakat membuang ratusan ton limbah ternak ke sungai tersebut.Tak heran Citarum menyandang sebagai sungai paling tercemar di dunia. Namun tanpa ada kesadaran, masyarakat juga masih memanfaatkannya untuk mandi dan memasak.

2. Sungai Yamuna, India

Sungai Yamuna terletak di sebelah utara India. Pada 1909, air sungai ini tergolong sebagai "biru jernih", namun akibat pertumbuhan populasi dan industrialisasi, Yamuna menjadi salah satu sungai paling tercemar di dunia. Sungai ini jadi 'tong' bagi 58% sampah di New Delhi! upaya pemerintah kota tersebut sudah untuk membuat Yamuna kembali bersih tak berhasil.

3. Sungai Buriganga, Bangladesh

Buriganga adalah sungai yang berada di Kota Dhaka. Sungai ini berfungsi sebagai jalur transportasi air antar kota di Bangladesh. Namun, sekarang Sungai Buriganga tercemar parah. Penyebab utamanya adalah polusi yang terdiri dari limbah kimia, plastik, minyak, sampai limbah rumah tangga. Kota Dhaka mengeluarkan ribuan ton sampah per harinya, dan mayoritas sampah dibuang ke Buriganga!

sumber : http://news.infospesial.net/read/1125/sungai-citarum-jadi-sungai-paling-tercemar-di-dunia.html
fotoSkandal Rabu atas permainan bulutangkis putri - pertama oleh sepasang pemain Cina dan kemudian diikuti oleh tiga orang lainnya dari Korea Selatan dan Indonesia - yang mengarah ke diskualifikasi, menambah panjang catatan pelanggaran yang terjadi selama ajang Olimpiade London 2012. Tapi, apa yang terjadi atas mereka masih rendah "derajat"-nya ketimbang skandal lain yang pernah terjadi dalam sejarah Olimpiade.

Berikut ini adalah enam skandal yang paling memalukan yang mencoreng semangat sportivitas dalam Olimpiade:

Serangan pada Nancy Kerrigan

Pada 6 Januari 1994, selama sesi latihan untuk U.S. Figure Skating Championships 1994 di Detroit, atlet skater Amerika Serikat, Nancy Kerrigan, yang difavoritkan meraih medali emas, dipukuli di lutut sebagai bagian dari plot untuk menggagalkan ambisi Olimpiade-nya.

Pesaingnya, Tonya Harding, mencoba untuk menutupi serangan itu, yang dilakukan oleh Shane Stant, yang dipekerjakan oleh mantan suaminya. Dia akhirnya duduk di kursi pesakitan namun berhasil ''menawar'' hukuman menjadi hanya tiga tahun masa percobaan, 500 jam pelayanan masyarakat dan denda US$ 160 ribu. Tapi skandal itu menjadi yang paling dipublikasikan dalam sejarah Olimpiade.

Kaki Kerrigan tidak cedera, dan ia mampu bersaing dalam Olimpiade Musim Dingin di Lillehammer, Norwegia, di tahun yang sama. Ketika keduanya berhadapan, pertandingan mereka menjadi yang paling banyak ditonton dalam Olimpiade kala itu. Kerrigan memenangkan medali perak dalam kompetisi, sementara Harding duduk di urutan kedelapan.

Jual beli suara

Kesalahan dibuat pasangan skater Rusia, Elena Berezhnaya dan Anton Sikharulidze dalam Olimpiade 2002, dan penampilan sempurna dibuat pasangan skater Kanada Jamie Sale dan David Pelletier. Namun hasilnya tak tercermin dalam hasil kejuaraan.

Hampir semua orang menduga pasangan Kanada mendapatkan medali emas. Tapi lima hakim memberikannya kepada orang Rusia, sementara hanya empat kepada pasangan Kanada. Sale- Pelletier menerima medali perak di tengah kecaman dari media Kanada dan Amerika Serikat.

Tapi hari berikutnya seorang hakim Prancis, Marie-Reine Le Gougne, mengakui ia telah dibeli. Rusia berjanji akan memberi tempat pertama bagi tim penari es Prancis jika dia menyerahkan suaranya untuk Berezhnaya dan Sikharulidze.

Akhirnya diputuskan, Rusia dan Kanada berbagi medali emas.


Medali Emas Korea Selatan ''Dicuri''

Juga di Olimpiade 2002, kompetisi speedskating menghasilkan kontroversi yang panas saat Korea Selatan menuduh bahwa medali emas mereka telah dicuri.

Kim Dong Sung selesai pertama di speedskating lintasan pendek 1.500 meter. Dia mengambil putaran kemenangan dengan bendera Korea Selatan.

Tapi tiba-tiba, perayaan itu berbuah pahit ketika diumumkan bahwa yang berhak meraih emas adalah atlet AS, Apolo Ohno, dan bahwa Kim didiskualifikasi karena memblokir Ohno di lap terakhir.

Wasit asal Australia, James Hewish, menyatakan bahwa Kim pindah ke jalur Ohno yang berada di urutan kedua, ketika Ohno terlihat memberi isyarat dengan tangannya seolah-olah keluar dari jalan Kim. Kepala delegasi Korea Selatan menuduh bahwa wasit telah membuat keputusan hanya berdasarkan isyarat itu, tidak berdasar fakta di lapangan.

Sebagai reaksi terhadap berita tentang diskualifikasi Kim, Ohno jadi bulan-bulanan pers Korea Selatan. Kantor berita resmi Korsel, Yonhap menjuluki "aksi ala Hollywood" untuk ulahnya.

Skandal Ben Johnson


Sprinter Kanada Ben Johnson memiliki karir cemerlang. Pada tahun 1987, rekor 100 meter dunianya mencatat waktu 9,79 detik, membuatnya mendapat julukan "Benfastic."

Tapi hanya tiga hari setelah ia memecahkan rekor itu, medali emasnya dilucuti. Sampel urinnya mengandung steroid stanozolol, dan Johnson mengaku mengonsumsi steroid ketika dia mengatur catatan 9,79 detik.

Johnson dan pelatih Charlie Francis bersaksi bahwa Johnson mengonsumsinya hanya untuk peningkat kinerja untuk tetap pada pijakan, dan atlet lain yang juga menggunakannya.

Dalam buku berjudul Speed Trap, Francis menyatakan semua atlet terbaik di akhir 1980-an semua menggunakan steroid.

Kebohongan atlet Marion Jones  

Pelari Marion Jones dihukum enam bulan penjara pada tahun 2008 karena berbohong kepada jaksa federal yang menyelidiki penggunaan steroid.

Tuduhan penggunaan steroid telah mengikuti Jones sepanjang karir berlarinya, yang dimulai sejak SMA. Dia tegas membantah hubungan apapun dengan obat-obatan untuk meningkatkan kinerja  sampai 2007, ketika dia mengaku berbohong kepada agen federal tentang penggunaan steroid sebelum Olimpiade Sydney 2000. Pada konferensi pers, dia secara terbuka mengakui bahwa dia, pada kenyataannya, mengonsumsinya.

"Saya berdiri di hadapan Anda dan memberitahu Anda bahwa saya telah mengkhianati kepercayaan Anda ... dan Anda memiliki hak untuk marah pada saya ... saya membiarkan negara saya malu dan saya mengecewakan diri saya sendiri," katanya dalam konferensi pers.

Pada Desember 2007, Komite Olimpiade Internasional dilucuti Jones dari lima medali dalam Olimpiade itu. Dalam sebuah wawancara dengan Oprah Winfrey pada bulan Oktober 2008, Jones mengklaim bahwa dia sebenarnya bisa memenangkan emas di Sydney tanpa mengonsumsi steroid.

Emas Roy Jones Jr Dirampok


Empat belas tahun sebelum Korea Selatan mengklaim medali Kim Dong Sung dirampok, atlet tinju AS pernah mengalaminya.

Setelah final tinju di Olimpiade Seoul 1988, di mana petinju AS Roy Jones Jr. pencatat 86 pukulan pada lawannya, petinju Korea Selatan Park Si-Hun yang hanya mencatat 32 pukulan. Namun, Park dimenangkan dalam pertandingan itu.

Tak lama,  satu hakim mengakui bahwa keputusan adalah sebuah kesalahan. Akhirnya, pada tahun 1997, sebuah investigasi Komite Olimpiade Internasional menetapkan bahwa para pejabat Korea Selatan telah menyuap hakim dengan mentraktir makan malam dan minum anggur.

Namun, keputusan komite menetapkan Park tetap berhak atas medali emasnya.

http://owuniq.blogspot.com
Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!